AMARA Sultra Nilai Pengibaran Bintang Kejora Bukan Bentuk Separatisme

- Publisher

Senin, 6 Juli 2026 - 23:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terkiniindonesia.com – Asosiasi Mahasiswa Radikal Sulawesi Tenggara (AMARA Sultra) menyatakan dukungan terhadap hak pengibaran Bendera Bintang Kejora sebagai bentuk ekspresi publik. Sikap itu disampaikan Ketua Umum AMARA Sultra, Malik Botom, melalui keterangan tertulis di Kendari, Senin (6/7/2026).

Malik menegaskan dukungan tersebut tidak dimaksudkan sebagai dukungan terhadap kemerdekaan Papua maupun gerakan separatis. Menurutnya, Bintang Kejora dapat diposisikan sebagai simbol identitas kultural sepanjang ditempatkan di bawah Bendera Merah Putih.

AMARA Sultra menilai negara perlu membedakan antara ekspresi budaya dan tindakan yang mengarah pada upaya memisahkan diri dari Indonesia. Organisasi itu berpandangan pengibaran simbol tersebut tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai tindakan makar.

Dalam pernyataannya, AMARA Sultra juga mengkritik pendekatan keamanan yang dinilai lebih dominan digunakan pemerintah dalam merespons berbagai aksi di Papua. Mereka meminta pemerintah mengedepankan dialog, perlindungan hak asasi manusia, serta membuka ruang demokrasi bagi masyarakat Papua.

AMARA Sultra turut menyoroti sejumlah isu yang dinilai menjadi akar persoalan di Papua, seperti dugaan pelanggaran HAM, ketimpangan pembangunan, konflik agraria, eksploitasi sumber daya alam, hingga dampak sejumlah proyek strategis nasional terhadap masyarakat adat.

Baca Juga :  PT Apriadika Libatkan Masyarakat Sekitar dalam Pengerjaan Proyek

Untuk memperkuat argumentasinya, organisasi tersebut mengutip pandangan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pernah menempatkan Bintang Kejora sebagai simbol kultural, bukan simbol kedaulatan politik. AMARA Sultra juga merujuk sejumlah kajian akademik terkait kebebasan berekspresi dan dinamika sosial-politik Papua.

Di akhir pernyataannya, AMARA Sultra mengajak pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat membuka ruang dialog yang setara guna mencari penyelesaian damai terhadap persoalan Papua. Organisasi itu menegaskan sikap tersebut merupakan pandangan organisasi dan tidak mewakili kebijakan pemerintah maupun putusan pengadilan.*

Berita Terkait

Patroli Malam Polres Kolut Ungkap Aktivitas Pemindahan 830 Liter Solar Subsidi
Dua Kali Demo, SAC Pertanyakan Penanganan Dugaan PETI Bombana oleh Polda Sultra
Pembangunan SDN 10 Kendari Disorot Mahasiswa, PUPR dan Disdik Diminta Transparan
Dugaan Perselingkuhan Oknum TNI Bombana, Istri Soroti Sikap Dandim dan Ketua Persit
Kasus Tambang Ilegal Suparjo Belum Tuntas, IMALAK Sultra Soroti Penegakan Hukum
Dugaan Perselingkuhan Oknum TNI dan Kades Kolombi, Istri Soroti Nafkah Anak dan Proses Cerai
Solar Subsidi APMS Bokori Bermasalah? IMALAK Minta Oknum Polisi dan TNI Diperiksa
Dugaan Konflik Kepentingan Iksan di PT GAP, IMALAK Sultra Minta Penelusuran
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 17:37 WITA

Patroli Malam Polres Kolut Ungkap Aktivitas Pemindahan 830 Liter Solar Subsidi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 20:16 WITA

Dua Kali Demo, SAC Pertanyakan Penanganan Dugaan PETI Bombana oleh Polda Sultra

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:35 WITA

Pembangunan SDN 10 Kendari Disorot Mahasiswa, PUPR dan Disdik Diminta Transparan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 16:33 WITA

Dugaan Perselingkuhan Oknum TNI Bombana, Istri Soroti Sikap Dandim dan Ketua Persit

Jumat, 23 Oktober 2026 - 15:37 WITA

Kasus Tambang Ilegal Suparjo Belum Tuntas, IMALAK Sultra Soroti Penegakan Hukum

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:04 WITA

Solar Subsidi APMS Bokori Bermasalah? IMALAK Minta Oknum Polisi dan TNI Diperiksa

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:18 WITA

Dugaan Konflik Kepentingan Iksan di PT GAP, IMALAK Sultra Minta Penelusuran

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:12 WITA

Transparansi Penindakan Gakkum ESDM di Sultra Dipertanyakan Triple C

Berita Terbaru